Jumat, 16 Desember 2011

Penulisan Sejarah Sastra Indonesia Secara Sinkronik Periode Angkatan Reformasi

SEJARAH SASTRA

Penulisan Sejarah Sastra Indonesia Secara Sinkronik Periode Angkatan Reformasi


Disusun oleh       :
Tiara Ramadhan

NIM                     :
06101002011

Mata Kuliah      :
Sejarah Sastra

Dosen Pengasuh         :
Dr. Didi Suhendi, M.Hum


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010/2011



KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, berkat rahmat dan inayah Allah SWT, kami sangat bersyukur kepada Allah SWT karena kami dapat menyelesaikan makalah untuk pemenuhan tugas mata kuliah sejarah sastra yang diasuh oleh bapak Dr. Didi Suhendi, M.Hum selaku dosen pengasuh dalam mata kuliah sejarah sastra.
Masih banyak sekali kekurangan dalam makalah ini, kritik, dan saran dari pembaca sangat diterima, semoga dapat menjadi bacaan yang bermanfaat bagi pembacanya, kami selaku penyusun mohon maaf apabila ada kesalahan dalam tulisan ini, kepada Allah kami mohon ampun.




                                                                                                Indralaya,   April 2011



                                                                                                Penyusun














DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN ………………………………..      
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………….       
1.2 Permasalahan ………………………………………………………………                  

BAB II PEMBAHASAN ………………………..............        
2.1 Pengertian Umum Cerita Pendek …………………………………………                   
2.2 Ciri Cerita Pendek Sastra …………………………………………………        
2.3  Penulisan Sejarah Sastra Secara Sinkronik pada Cerita Pendek Sastra
       Periode Angkatan Reformasi ……………………………………………
2.2.1 Aliran atau Isme Cerita Pendek Sastra …………………………
2.2.2 Tema Cerita Pendek Sastra …………………………………….         
2.2.3 Sudut Pandangan Tokoh …………………………………….…
2.2.4 Latar atau Setting ………………………………………………
2.2.5 Watak atau Karakter ……………………………………………

BAB III PENUTUP …………………………………….
3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………         

















BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Pengertian sastra Indonesia, tentulah menunjuk kepada pengertian apa yang disebut
dengan sastra Indonesia modern atau sastra Indonesia baru. Istilah modern atau baru ini sesungguhnya merupakan penegasan saja, sebab sesungguhnya, seperti dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto (1963: 204), sastra Indonesia itu lain dari sastra Melayu yang merupakan sastra daerah, yang biasa disebut sastra Indonesia lama. Dengan demikian, penulisan sejarah sastra Indonesia dimulai dengan lahirnya, latar belakang lahirnya, dan sebab-sebab lahirnya kesusasteraan Indonesia tersebut.
            Mengenai kapan lahirnya kesusasteraan Indonesia, ada bermacam-macam pendapat, yang tak perlu diuraikan di sini. Hanya saja dapat dipakai sebagai ancar-ancar adalah pendapat atau pandangan Nugroho Notosusanto (1963: 205), yaitu lahirnya sekitar lahirnya nasionalitas Indonesia secara resmi sebab sesudah itu, karya cipta sastra sudah bersifat nasional Indonesia, bukan cipta daerah lagi. Secara resmi diakui nasionalitas Indonesia lahir tanggal 20 Mei 1908, yaitu tanggal berdirinya Budi Utomo, organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia yang pertama. Jadi, mestinya lahirnya sastra Indonesia tanggal 20 Mei itu, tetapi penentuan lahirnya sastra harus didasarkan juga pada adanya karya sastra secara konkret, di sini karya sastra yang bersifat nasional. Kenyataannnya pada tanggal tersebut belum ada karya sastra (modern) yang bersifat nasional Indonesia; baru ada sekitar tahun 1920. Secara sporadis antara 1908-1920 itu ada satu dua karya satra yang bersifat nasional dengan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia meskipun pengakuannya secara resmi, bahasa Indonesia baru terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Misalnya, karya tersebut berupa roman Student Hidjo karya, Mas Marco terbit 1919 (Teeuw, 1978: 35) dan Hikayat Kadirun karya Semaun terbit 1920 (Teeuw, 1978: 33). Namun, baru sesudah terbitnya karya-karya sastra Balai Pustaka yang diawali dengan Azab dan Sengsara (1921) cipta sastra Indonesia bersambung terus tak terputus hingga sekarang. Begitu juga sekitar tahun 1920 itu telah ditulis sajak-sajak yang bersifat nasional Indonesia oleh Mohammad Yamin, Sanusi Pane, Mohammad Hatta, dan lain-lainnya (Ajip Rosidi, 1964: 7). Jadi, secara tegas dapat dikatakan (dibulatkan) lahirnya sastra Indonesia tahun 1920, tahun yang utuh sebagai kecenderungan penentuan periodisasi meskipun itu tidak mutlak.
            Penulisan sejarah sastra Indonesia sesungguhnya dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama, dengan cara teori estetika resepsi atau estetika tanggapan. Yang kedua, dengan cara teori penyusunan rangkaian perkembangan sastra dari periode ke periode atau dari angkatan ke angkatan, hal ini seperti juga dikemukakan Wellek (1968: 254-255), hanya ia tidak menyebut istilah estetika resepsi.
            Di samping itu, penulisan sejarah sastra Indonesia juga dapat dilakukan secara sinkronis dan diakronis. Secara sinkronis ialah membicarakan (menulis) sejarah sastra dalam salah satu tingkat perkembangannya atau salah satu periodenya, misalnya periode Angkatan 45 atau periode Angkatan Pujangga baru. Secara diakronis membicarakan (menulis) sejarah sastra dalam berbagai tingkat perkembangannya yang terakhir.
            Di dalam tulisan ini akan dibahas mengenai penulisan sejarah sastra secara sinkronis dalam periode Angkatan Reformasi. Di dalam tulisan ini, ciri-ciri struktur estetik dan ektra estetik diuraikan lebih luas lagi dan diberikan contoh-contohnya pada setiap butir cirri tesebut. Dengan demikian akan tampak jelas bagaimanakah wujud cerita pendek sastra periode Angkatan Reformasi.
     
1.2 PERMASALAHAN

1.      Bagaimanakah Aliran atau Isme Pada Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi ?
2.      Bagaimanakah Tema Pada Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi ?
3.      Bagaimanakah Sudut Pandangan Tokoh Pada Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi ?
4.      Bagaimanakah Latar atau Setting Pada Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi ?
5.      Bagaimanakah Watak atau Karakter Pada Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi ?
6.      Apa saja Ciri-ciri Struktur Estetik dan Ekstra Estetik Pada Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi ?






























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN UMUM CERITA PENDEK
           
            Doktor H.B. Jassin mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian. sedangkan menurut Mochtar Lubis yang disebut cerita pendek itu dapat dirinci sebagai berikut. Pertama, ia harus mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara langsung atau tidak lansung. Kedua, ia harus menimbulkan suatu hempasan dalam pikiran pembaca. Ketiga, ia harus menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa pembaca merasa terharu oleh jalannya cerita; cerita pendek pertama-tama menarik perasaan haru kemudian menarik pikiran. Keempat, ia harus mengandung perincian atau insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja, dan yang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca.
            Pendapat cerita pendek dirinci Mohammad Dipenegoro dalam Yuk, Nulis Cerpen Yuk (Shalahuddin Press, 1985) sebagai berikut.
            Pertama, cerita pendek harus pendek. Disamping itu ia harus member kesan secar terus-menerus hingga kalimat terakhir, berarti cerita pendek harus ketat, tidak mengobral detail, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita, atau menampakkan problem.
            Kedua, cerita pendek mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Di dalam cerita pendek tidak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa dan digresi.
            Ketiga, cerita pendek harus ketat dan padat. Setiap detail ahrus mengarus pada satu efek saja yang berakhir pada kesan tunggal. Oleh sebab itu ekonomisasi kata dan kalimat sangat dibutuhkan—sebagai satu keterampilan yang sangat dituntut bagi seorang cerpenis.
            Keempat, cerita pendek harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan. Itulah sebabnya dibutuhkan suatu keterampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.
            Kelima, cerita pendek harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karean ceritanya masih seperti berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung dan berhenti disitu.


2.2 CIRI CERITA PENDEK SASTRA

           
            Dalam buku Beberapa Petunjuk Menulis Cerita Pendek (Mitra kencana, 1981) Jakob Sumardjo menjelaskan beberapa ciri karya sastra besar yang juga dapat diterapkan pada cerita pendek sastra.
            Pertama, cerita pendek sastra itu harus mengandung kebenaran dan kejujuran. Disini pengarang bertindak bukan hanya untuk dirinya sendiri, golongannya, suaru bangsa atau kebangsaan tertentu saja, tetapi kejujuran dan kebenaran yang universal, yang dapat diterima oleh semua manusia secara umum.
            Kedua, pusat pengisahan cerpen haruslah manusia – atau apa yang dimanusiakan, atau suatu benda yang diderajatkan sama dengan manusia – dengan menghadirkan perasaan yang universal. Yang dipersoalkan disini adalah pesoalan manusia secara utuh. Yaitu hubungan manusia dengan antarsesama, dengan lingkungan, tuhan, maupun diri sendiri. Di dalamnya dikisahkan tentang keinginann, nafsu, penderitaan, bahagia, pergaulan, keinginan, dan impian dan sebagainya, yang dirasakan dan dilakukan manusia siapa saja di dalam planet bumi. Seseorang yang diceritakan dapat dirasakan siapa saja, karena pusat kisahnya adalah tentang manusia.
            Ketiga, cerita pendek sastra pasti menarik perhatian, karena tidak lagi dihalangi oleh persoalan teknis. Gaya bahasanya memikat, temanya unik, ciri kepengarangannya muncul secara kuat dan kukuh, bagaikan mata air murni yang tak pernah habis ke luar dari sumber dan mampu memuaskan hati dan jiwa pembacanya. Cerita pendek sastra dapat menjadi sumber kebahagiaan rohani para pembaca, merangsang kreativitas dan inovasi. Ia tidak akan pernah selesai dibaca, karena setiap kali diulang-baca, selalu ada keinginan untuk mengulang-bacanya lagi.
            Keempat, cerita pendek sasta bersifat abadi, Karena ia berbicara tentang manusia dan zamannya secara sastrawi. Pengarang sastra memiliki keterampilan yang menjadi bawaannya sejak lahir, dan dalam pengembangannya, ia mampu melukiskan suatu pesona secara khas. Oleh sebab itu, zaman dan manusia yang dilukiskan seorang pengarang cerita pendek sastra dapat menjadi manusia dan masalah setiap zaman.
            Kelima, cerita pendek sastra mempunyai tendensi menjadi trend, khusunya karya sastra yang besar, karena ia dapat mengatasi suasana kedaerahan, warna kulit, situasi politik, golongan, kepercayaan, situasi sosial-ekonomi.



2.3 PENULISAN SEJARAH SASTRA SECARA SINKRONIK PADA CERITA PENDEK SASTRA PERIODE ANGKATAN REFORMASI


2.2.1 ALIRAN ATAU ISME CERITA PENDEK SASTRA

Banyak aliran sastra yang muncul dalam cerita pendek secara kuat dan menonjol sebagaimana pernah ditulus oleh Korrie Layun Rampan dalam bukunya Aliran-Jenis Cerita Pendek. Akan tetapi corak aliran yang dominan adalah corak aliran objektif dan corak aliran subjektif. Corak aliran isi yang objektif meliputi aliran realisme, realisme sosial (materalisme), naturalisme, ekspresionisme, mistisme, didaktisme, dan determinisme. Sedangkan corak aliran isi yang subjektif adalah: romantisme, simbolisme, surealisme, idealisme, impresionisme, absurdisme, eksistensialisme, futurisme, vitalisme, humanisme, psikologisme, imagisme, dadaisme, transendentalisme, genteelisme, dan lain-lain. Semua aliran ini membawa coraknya sendiri-sendiri.
Aliran pertama yang muncul dalam dunia cerita pendek Indonesia adalah aliran realisme. Aliran realisme adalah suatu aliran yang melukiskan keadaan atau kenyataan secara sesungguhnya. Pada dasarnya aliran ini berusaha menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif. Realisme menghendaki gambaran yang objektif seperti apa adanya. Kenyataan-kenyataan itu tak boleh ditafsirkan oleh sastrawan menjadi berlebih-lebihan. Hal-hal sifatnya ideal ditolak. Inilah sebabnya karya-karya realisme banyak yang berkisar pada golongan bawah masyarakat seperti kaum tani, buruh, gelandangan, pelacur, gangster, dan sebagainya.
Pada cerita pendek karya Setyo Subandono, Tukang Patri penulis menggunakan aliran realisme. Pada cerpen ini pengarang menggambarkan keadaan yang sebenarnya, seperti yang dapat dilihat oleh mata. Seperti penggalan cerpen dibawah ini.

“ Kebakaran …Tolong…Kebakaran...Tolooong…”
                Suara-suara itu membahana ke seluruh pelosok perumahan dekat pabrik. Orang-orang menjadi sangat terkejut ketika melihat asap tebal sudah menyelimuti bangunan pabrik. Segera mereka memegang apa saja untuk mencoba memadankam api yang sudah mulai menjalar ke seluruh bangunan.
                Namun apalah daya. Angin yang berhembus sangat kuat membantu api itu melahap seluruh bangunan beserta isinya. Panasnya cuaca juga berperan dalam musibah yang terjadi siang bolong itu. Mobil pemadam kebakaran sangat lambat datangnya. Itupun tak didukung oleh petugas-petuga yang profesional. Lengkaplah musibah itu. Para pekerja pabrik menjerit hilir mudik tak tahu apa yang harus musti diperbuat.

Pengarang juga melukiskan tokoh utamanya “Sandimin” dengan perasaan dan pikirannya sampai yang sekecil-kecilnya. Hal tersebut merupakan ciri pengarang yang menggunakan aliran realisme dalam cerita pendek sastranya. Hal ini dapat dibuktikan dengan penggalan cerpen Tukang Patri dibawah ini.

“Alaah…nggak lama lagi paling dia juga tertangkap,” ujar yang lain menimpali.
                Bulu kuduk Sandimin meremang.
                “Polisi sudah menyebar anggota ke seluruh pelosok kota. Paling satu atau dua hari lagi juga tertangkap.”
                Sandimin merah padam mendengar obrolan-obrolan itu. Telinganya sakit mendengar hujatan-hujatan mereka. Batinnya tidak terima. Ia merasa tidak bersalah. Tapi demi keamanan ia memendam saja kekesalannya itu.

            Jakob Sumardjo mengatakan bahwa kaum realis lebih suka memilih tokoh-tokoh sederhana dan umum seperti biasa kita jumpai di jalan, dengan kejadian dan lingkungan yang sudah amat kita kenal pula dalam kehidupan sehari-hari. Seperti di dalam cerpen Tukang Patri ini, pengarang menggambarkan tokoh utamanya “Sandimin” adalah seorang tukang las.
Selain cerita pendek Tukang Patri karya Setyo Subandono, cerita pendek Kisah Sum-Sabar karya Yanusa Nugroho juga menggunakan aliran realisme pada cerpennya. Hal ini dapat kita lihat dari pengarang yang menggambarkan tokoh utamanya “Sum” adalah seorang pembantu dan “Sabar” adalah seorang tukang kebun. Pengarang juga melukiskan keadaan yang sebenarnya, seperti yang dapat dilihat oleh mata. Seperti penggalan cerpen dibawah ini.

Sum tunduk di depan juru rias. Simboknya, yang baru hari itu dating dari desa, berkali-kali menghapus air mata harunya, anak gadisnya jadi mantu pensiunan bupati.
Malam itu ada pesta. Banyak gembira. Bapak bupati beserta ibu, hadir, bapak wedana beserta ibu, dan seorang anak gadisnya, hadir. Bapak camat dan isteri mudanya, juga hadir. Lurah, RK, RT, dan undangan lainnya juga hadir.

Sama seperti Setyo Subandono, pada cerpen Kisah Sum-Sabar ini Yanusa Nugroho juga melukiskan tokoh utamanya “Sabar dan Sum” dengan perasaan dan pikirannya sampai yang sekecil-kecilnya. Dapat dilihat dari penggalan cerpennya di bawah ini.

Sabar menggeram dalam hati. Kata-kata itu mengiang, mengaung di lorong kupingnya. Menggema, menghantami setiap dindingnya, membuat pembuluh darah dikepalanya serasa mengembang dan mengempis bergantian cepat. Arus darah seolah berisi gumpalan batu-batu kadang menyumbat, kadang malah mendorong. Menggelegak menghantam otak, mengembalikannya ke dada, menyiraminya dengan warna merah. Menggelora, dan dada itu pun turun naik mendenguskan kekesalan yang panjang. Sabar lari.

Pengarang aliran realisme melukiskan dengan teliti, tanpa prasangka dan tanpa dicampuri tafsiran dan tak mendesakkan kehendaknya sendiri terhadap pelaku dan pembacanya; pengarang sendiri berada di luar, tanpa ikut campur dalam cerita. Ia sebagai penonto yang objektif. Pengarang tidak melukiskan lebih bagus atau lebih jelek dari kenyataan sebenarnya. Kaum realisme ingin menyatakan sesuatu dengan penuh kejujuran, tanpa tafsiran subjektif.
Aliran yang juga kuat muncul dalam dunia cerita pendek Indonesia adalah aliran naturalisme. Aliran ini melukiskan segala aspek kehidupan manusia dari yang baik hingga yang buruk, dan pelukisan itu dilakukan secara blak-blakan, gamblang, bahkan sampai kepada yang busuk dan jorok.
Drs. Abdullah Ambary mengatakan bahwa naturalisme cenderung melukiskan kenyataan-kenyataan yang buruk; kejelekan-kejelekan atau kekurangan tentang keadaan masyarakat atau sifat manusia. Naning Pranoto menggunakan aliran naturalisme di dalam cerpennya Warna Cinta Seorang Peragawati. Hal ini dapat dilihat dari penggalan cerpennya dibawah ini.

Kemudian, hati kecilnya menyanggah, “AB meninggalkanmu karena tidak mau dinikahinya. Karena kamu menganggap pernikahan itu akan membuatmu kehilangan kebebasan. Kamu selalu ingin sebebas camar, burung laut yang selalu terbang ke mana saja dan tidak memerlukan sangkar.”
                Ia tertegun mendengar kata ‘camar’ dan ‘sangkar’.
                “Aku memang selalu ingin sebebas camar, tetapi bukan berarti aku camar yang tidak memerlukan sangkar!” serunya, “Aku perlu sangkar untuk meneduhkan perasaanku, mencurahkan kerinduanku serta hasrat denyar-denyar warna cintaku. Sangkar itu hanya kutemukan pada diri AB. Buktinya? Aku sulit jatuh cinta pada lelaki lain. Dan, milikku yang paling berharga pun telah kuberikan kepadanya sejak lima belas tahun yang lalu. Sejak itu aku tidak layak lagi menyebut diriku sebagai perawan! Aku juga akan berdosa besar bila mengaku sebagai perempuan suci.”

            Di dalam cerita pendek ini, Naning Pranoto berusaha mewujudkan gerak dan aktivitas tokoh utamanya dengan kehidupan moral yang rendah. “Ia” tokoh utama dalam cerpen tersebut adalah seorang peragawati yang telah belasan tahun memadu kasih dengan kekasihnya tanpa tali pernikahan atau yang sering disebut masyarakat “Kumpul Kobo”.
            Di Barat aliran ini mula-mula diperkenalkan oleh Honore de Balzac yang kemudian diikuti oleh sejumlah pengarang seperti Emile Zola.


2.2.2 TEMA CERITA PENDEK SASTRA
           
           
Tema adalah sebuah cerita pendek yang bisa disamakan dengan fundamen sebuah bangunan. Tentu saja tidak mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa fundamen. Dengan kata lain, tema adalah ide pokok sebuah cerita pendek: kesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita: dasar tolak untuk bercerita.
            Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokoknya. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya masalah kehidupan, komentar pengarang terhadap pengarang terhadap kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini.
            Walaupun tema menjelaskan arti kehidupan, tetapi tidak harus berupa ajaran moral. Mungkin saja tema itu berwujud pengamatan terhadap kehidupan, berupa kesimpulan bahkan bisa berupa bantahan. Biasanya cerpen sastra selalu mengajak pembacanya turut aktif, tidak saja berpartisipasi sebagai pembaca yang kreatif dan kritis, tetapi reaktif terhadap pikiran-pikiran yang diajukan pengarang.
            Seperti halnya cerita pendek Kisah Sum-Sabar karya Yanusa Nugroho pengarang sama sekali tidak menawarkan kesimpulan tentang kematian Sum dan nasib Sabar. Pengarang tidak menjelaskan temanya secara gamblang dan selesai, tetapi ia hanya menyodorkan masalah kehidupan Sum dan Sabar yang tidak dapat menyatukan kisah cinta mereka karena menghindari cinta yang tak mungkin ditolak. Lalu, pada akhirnya terserah kepada pembaca untuk memecahkannya.
            Pengarang cerita pendek yang baik tidak pernah menyertakan temanya secara definitif. Pengarang yang baik biasanya menyatakan ide pokok ceritanya lewat unsur-unsur cerita. Pengarang modern biasanya tidak mau menyimpulkan cerita seperti pengarang lama yang hendak menjelaskan temanya secara hitam putih.
            Seperti cerita pendek Tukang Patri karya Setyo Subandono, pengarang memasukkan temanya secara tersamar didalam seluruh elemen ceritanya. Pengarang memasukkan temanya melalui jalan pikiran Sandimin, seperti penggalan cerpen dibawah ini.

Sandimin menyenandungkan tembang mijil. Air matanya menetes. Ingat nasibnya. Selalu disalahkan. Selalu dikalahkan. Ia kesal dituduh membakar pabrik, padahal ia sudah bekerja dengan sangat hati-hati. Ia hayati tembang itu dalam-dalam. Kalau ingin senang, orang harus mengalah dahulu. “Lho aku ini kapan menangnya?” jerit hatinya.

Selain itu, juga melalui perasaan Sandimin. Terlihat dalam penggalan cerpen karya Setyo Subandono di bawah ini.

Kini, ketika usianya hampir tanggal, ia dituduh menyebabkan terjadinya kebakaran sebuah pabrik. Sebenarnya ia ingin membantah. Tapi tak punya nyali kalau harus berhadapan dengan yang namanya petugas. Ingat polisi atau tentara, ingat pula ia akan nasib bapak dan ibunya dahulu. Dengan bengis dan di depan matanya tentara-tentara jepang itu dulu menghabisi nyawa bapak dan ibunya. Itulah yang membuat ia nekat lari dan bersembunyi.

 Dan yang terakhir melalui ending cerita untuk mempertegas penyajian tema yang ingin disampaikan oleh pengarang.

Sekarang sandimin berdiri di bibir jurang. Ia sudah ambil keputusan. Terjun. Ya, ia sudah mantap. Sandimin menyenandungkan tembang megatruh kini. Habis itu, ada senyum merekah dibibir jurang. Senyum getir. Tak lama kemudian, burung-burung gagak terbang hilir-mudik di sekitar jurang.

Di dalam cerita pendek Tukang Patri ini, pengarang menyajikan masalah moral pada masyarakat menegah kebawah. Bagaimana Sandimin tokoh utama dalam cerpen tersebut memandang masalah dan pikirannya dalam memecahkan masalah yang menimpanya.
Sebuah cerpen yang baik selalu menyatu, berbagai unsurnya tidak pecah-pecah, tetapi secara serempak mengarus ke suatu tujuan karena digiring oleh tema.
            Realisasinya dapat dilihat dari cerita pendek Naning Pranoto, Warna Cinta Seorang Peragawati. Pelukisan karakter, konflik batin tokoh, dan surprise ending adalah elemen pemikat yang disajikan pengarang agar tema yang tersamar itu dapat tersampaikan dengan baik.
            Pelukisan karakter untuk memperkuat tema dapat dilihat dari penggalan cerpen di bawah ini. Latar atau setting juga bertalian erat dengan pelukisan karakter, untuk membimbing pembaca menangkap tema yang ingin disampaikan oleh Naning Pranoto.
               
Bersamaan dengan itu kedua tangannya yang kuning mulus tiba-tiba lunglai seperti tangkai bunga bakung yang layu. Sedangkan jemarinya yang berkuku panjang artistic, bercat merah mengatup gemetar. Pulpen yang dipegangnya jatuh ke lantai yang dilapisi karpen warna gading, senada dengan cat tembok kamarnya. Ia lalu menjatuhkan kepalanya di atas permukaan meja marmer yang ada di kamarnya. Selanjutnya, yang lunglai tidak hanya tangannya, melainkan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia benar-benar tidak berdaya dan perlu kekuatan baru untuk bangkit, melanjutkan tekadnya: membunuh AB.

            Selanjutnya konflik batin tokoh dapat dilihat dari penggalan cepen Naning Pranoto dibawah ini.

“Hasrat membunuh itu beban yang sangat berat!” hati kecilnya berbisik pada akal sehatnya.
                “Ya, membunuh memang pekerjaan yang sangat berat, apalagi membunuh orang yang dicintainya! Makanya, perlu dipertimbangkan baik-baik sebelum bertindak.” Akal sehatnya menanggapi dengan bijak.
                Ia termangu. Dialog hati kecil dan akal sehatnya menggiringnya berpikiran jernih untuk melihat kenyataan yang dihadapinya dengan adil: layakkah membunuh orang yang dicintainya?
               
            Yang terakhir adalah surprise ending yang disajikan Naning Pranoto. Di dalam cerpen ini, tokoh utamanya adalah seorang wanita yang berniat membunuh kekasihnya yang akan menikah dengan gadis lain dan ia sedang menyusun rencana pembunuhan tersebut. Tetapi, belum sempat rencana pembunuhan itu terlaksana, di akhir cerita sang tokoh utama yang putus asa tersebut, bunuh diri menggunakan silet di dalam kamarnya.

Langkah-langkah itu sungguh menyakiti perasaannya, yang kemudian menggiringnya untuk menjadi seorang pembunuh. Tetapi sebelum ia terlaksana menjadi seorang pembunuh, ia diketemukan tak bernyawa di kamarnya, dengan posisi tertelungkup. Kedua tangannya memengangi dadanya yang indah, seindah dada venus. Dada yang indah itu tampak berwarna merah, karena teraliri darah yang bersumber dari leher yang dirobek oleh sebilah silet….

            Sama seperti cerita pendek Tukang Patri karya Setyo Subandono, cerpen Warna Cinta Seorang Peragawati karangan Naning Pranoto, pengarang juga tidak menjelaskan secara gamblang mengenai tema yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pada kedua cerpen ini, pengarang jelas mengemukakan pandangan hidup dan pikiran-pikiran pribadi tokoh utama untuk memecahkan suatu masalah. Tokoh “Sandimin” di dalam cerpen Tukang Patri, ia akhirnya menyelesaikan masalahnya dengan bunuh diri karena tidak tahan lari dari masalah yang terus menghantuinya. Tokoh utama “ia” di dalam cerpen Warna Cinta Seorang Peragawati, juga mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri karena sudah terlalu putus asa dan sakit hati karena kekasih yang amat ia cintai akan menikah dengan gadis lain.


2.2.3 SUDUT PANDANGAN TOKOH


            Salah satu elemen dalam membangun cerita pendek adalah sudut pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke pandangan tokoh-tokoh cerita. Jadi sudut pandangan pengarang ini berhubungan erat dengan teknik bercerita dari pengarang; sebab yang ditampilkan ke dalam diri tokoh itu adalah sikap si pengarang dalam memandang masalah hidup dan kehidupan ini. Dengan kata lain, dari sudut mana pengarang memilih untuk membangun ceritanya.
            Pada cerita pendek Tukang Patri karangan Setyo Subandono, pengarang menggunakan sudut pandangan orang ketiga di dalam cerpennya. Di dalam cerpen tesebut, pengarang menyebutkan nama tokohnya, yaitu “Sandimin”. Hal tersebut dapat dilihat dari penggalan Cerita Pendek di bawah ini.

Bagaimana mungkin Sandimin mau ganti pakaian, pulang ke rumah saja ia tidak berani. Celana kolornya yang berwarna hitam tampak sudah mulai robek disana-sini. Sandal yang dikenakannya juga sudah butut dan hampir putus talinya. Boleh dibilang ia kini sudah mirip gelandangan yang tidak punya tempat tinggal. Ia berlari dan terus berlari menyembunyikan diri dari kejaran pihak yang berwajib. Tiap mendengar suara langkah kaki berat dan kokoh, bulu kuduknya pasti merinding.

Dan pada cerita pendek Naning Pranoto, Warna Cinta Seorang Peragawati, pengarang juga menggunakan sudut pandangan orang ketiga. Pengarang menggunakan tokoh “ia” sebagai tokoh utamanya. Terlihat dari penggalan cerpen Warna Cinta Seorang Peragawati dibawah ini.

Pertama-tama, ia memikirkan jenis alat yang akan dipergunakan untuk membunuh lelaki itu: senjata tajam, senjata tumpul atau jenis powder ya… semacam bubuk racun tikus begitu? Ia mempertimbangkan masak-masak. Kemudian ia menyusun daftar jenis senjata tajam yang akan dipergunakannya. Silet? Ia mencantumkan silet di urutan pertama. Alasannya, jenis senjata tajam ini bentuknya amat kecil, praktis, ekonomis, mudah dipergunakan, dan mudah pula membuangnya untuk menghilangkan jejak.

Tak jauh berbeda, Yanusa Nugroho juga menggunakan sudut pandangan orang ketiga dalam cerpennya yang berjudul Kisah Sum-Sabar. Yanusa Nugroho, lulusan sarjana sastra dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga menyebutkan nama tokohnya, yaitu “Sum” dan “Sabar” di dalam cerpennya.

Malam itu Sabar, mengendap-endap, menyelinap di kegelapan. Mendekati kamar Sum. Sunyi. Hanya dengkur Mbah Ji menggema di dalam sana. Dingin yang menggigit membuat Sabar kiat tercekat. Berulang kali dibisikannya nama itu. Dipanggilnya Sum. Diketuknya daun pintu jendela itu. Dijeritkannya doa, agar Sum terjaga.

Dalam teknik ini pengarang melepaskan dirinya dari keadaan dan suasana tokohnya, baik secara fisik maupun psikologis. Pengarang tidak memberi komentar apa-apa terhadap tokohnya , tetapi tokoh itu sendiri yang hidup dan beraktivitas sebagaimana layaknya manusia hidup didunia ini. Realisasinya dapat dilihat dari penggalan cerpen Tukang Patri karya Setyo Subandono.

Sandimin menyenandungkan tembang mijil. Air matanya menetes. Ingat nasibnya. Selalu disalahkan. Selalu dikalahkan. Ia kesal dituduh membakar pabrik, padahal ia sudah bekerja dengan sangat hati-hati. Ia hayati tembang itu dalam-dalam. Kalau ingin senang, orang harus mengalah dahulu. “Lho aku ini kapan menangnya?” jerit hatinya.
Sandimin terus mengamen dan terus mengamen. Dilangkahkannya ia punya kaki. Ia tak ingat lagi entah sudah berapa lama ia sembunyi dan sudah sampai mana ia kini. Badannya kurus. Baunya makin apek.

Dapat ditarik kesimpulan bahwasanya sebagian besar pengarang cerita pendek pada angkatan Reformasi menggunakan sudut pandangan orang  ketiga yang penggambaran psikologis tokohnya tidak mendalam. Disebabkan pengarang benar-benar netral.

2.2.4 LATAR ATAU SETTING


Latar atau setting bertumpu pada tempat dan waktu. Latar tempat merujuk pada suatu kawasan secara geografik, konkret, dan setting waktu merujuk pada suatu waktu tertentu. Akan tetapi, latar dalam cerita pendek sastra tidak hanya menjadi latar belakang, akan tetapi ia harus mendukung cerita secara keseluruhan.
Cerita pendek sastra yang berhasil adalah mampu memperlihatkan bahwa settingnya ikut berperan dan berfungsi menguatkan watak tokoh. Cerpen Naning Pranoto, Warna Cinta Seorang Pragawati, berhasil menampilkan karakter yang kuat melalui latar ceritanya.

Bersamaan dengan itu kedua tangannya yang kuning mulus tiba-tiba lunglai seperti tangkai bunga bakung yang layu. Sedangkan jemarinya yang berkuku panjang artistic, bercat merah mengatup gemetar. Pulpen yang dipegangnya jatuh ke lantai yang dilapisi karpen warna gading, senada dengan cat tembok kamarnya. Ia lalu menjatuhkan kepalanya di atas permukaan meja marmer yang ada di kamarnya. Selanjutnya, yang lunglai tidak hanya tangannya, melainkan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia benar-benar tidak berdaya dan perlu kekuatan baru untuk bangkit, melanjutkan tekadnya: membunuh AB.
                Tetapi, apa daya? Tubuhnya semakin lunglai. Ia meraba-raba permukaan meja marmer itu untuk mencari kekuatan. Perlahan-lahan ia rasakan, permukan meja marmer itu dingin. Bias-bias dinginnya menjalar ke permukaan wajahnya, lalu ke seluruh tubuhnya, kemudian meresap ke dalam pori-porinya yang lembut dan harum. Ternyata, bias-bias dingin itu mampu meredam gejolak perasaannya yang tengah dilanda prahara dendam.
           
Latar atau setting menentukan watak. Latar atau setting tak mungkin diganti karena kalau diganti akan mengubah watak atau karakter. Hal ini dapat dilihat pada penggalan cerita pendek karangan Setyo Subandono yang berjudul Tukang Patri.

Suatu siang, ia sampai diperbukitan. Di kanan kiri jalan itu jurang-jurang menganga terjal dan curam. Sandimin mengaso di bawah sebuah pohon yang daunnya meranggas ditelan kemarau. Ketika ia hendak menyandarkan tubuhnya ke batang pohon itu dari arah depan ia melihat dua orang polisi berboncengan naik sepeda motor. Mereka membawa senapan panjang. Sandimin merinding. Segera ia bersembunyi di balik pohon besar itu.

Dari penggalan cerpen tersebut, dapat dilihat watak Sandimin tokoh utama cerpen tersebut adalah pribadi yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.
Dalam penggalan cerita pendek Kisah Sum-Sabar karya Yanusa Nugroho dapat dilihat pengarang mengambil latar daerah Jawa yang sangat kental dengan kepercayaan masyarakatnya pada hal-hal mistis atau gaib.
           
Pesta meriah berlangsung. Tayuban dilangsungkan, tetapi tanpa tuak. Sabar duduk di atas pedupaan, di ruang sajen.
                Mulut mbah dukun dilihatnya komat-kamit. Dipencetnya hidung mbah dukun. Mbah dukun gelagapan, megap-megap, mirip ikan di darat. Semua sibuk. Gempar. Sabar mengajak Sum ke kamar pengantin.

Cerita pendek sastra sangat memperhatikan dan mengutamakan latar atau setting ini karena amat berkaitan dengan watak tokoh, dan watak tokoh ini juga ditentukan oleh cara hidup dan bekerja mereka, yang berkaitan dengan budaya setempat. Itulah sebabnya latar atau setting yang dipilih di dalam cerita pendek sastra tidak mungkin diubah-ubah karena menyangkut pembentukan pembentukan watak tokohnya secara khas yang mencerminkan pola hidup, pola budaya, pola bermasyarakat, pola berpikir dan sebagainya di kawasan itu, sehingga terbentuk watak seseorang yang merupakan bagian dari watak masyarakat setempat.
           

2.2.5 WATAK ATAU KARAKTER


Menurut R.V. Cassill, “Watak atau karakter adalah peukisan kepribadian manusia yang mengambil peranan dalam suatu kejadian.” Oleh sebab itu, kalau di dalam kehidupan nyata ini watak atau karakter itu diperhatikan begitu saja, akan tetapi di dalam fiksi ia di ciptakan. Di dalam cerita pendek modern, berhasil tidaknya sebuah cerita pendek banyak ditentukan oleh berhasil tidaknya penciptaan watak atau karakter tersebut.
Watak atau karakter merupakan pelukisan manusia pelaku yang memiliki keistimewaan dan kelemahan, sebagaimana manusia secara darah daging. Dalam menghadapi benturan atau peristiwa, bahkan suasana suka atau duka, memperlihatkan pengaruh khusus bagi watak atau karakter seseorang.
Watak atau karakter itu memang mula-mula ditandai dengan sikap, gerak-gerik, bagaimana ia makan, bercakap-cakap, berbagai kebiasaannya—buruk atau baik—akan tetapi sesungguhnya watak atau karakter adalah penampilan tokoh itu secara utuh-menyeluruh yang menandai sifatnya: cara berpikirnya, keinginannya, perasaannya, kebimbangannya, ketakutannya, keberaniannya, dan sebagiannya. Oleh sebab itu, pembentukan watak dalam cerita pendek tidak bisa terlepas dari setting, agar watak atau karakter yang tampil sungguh-sungguh manusia darah-daging, bukan suatu rekaan yang terasa hanya ada dalam khayal.
Pembentukan watak dapat dilakukan melewati beberapa hal. Salah satunya, penggambaran watak atau karakter dilakukan lewat apa yang diperbuat sang tokoh. Penggambaran watak ini dapat dilihat dari penggalan cerpen “Tukang Patri” karangan Setyo Subandono.

Sandimin yang tahu gelagat segera saja lari ngacir meninggalkan lokasi itu. Ia hanya sempat meyerobot buntalan plastik yang berisi tembakau, menyan, dan sigaret untuk melinting rokok. Juga masih ada sedikit uang didalam plastik itu.
                Sandimin berlari dan terus berlari hingga jauh dari kota. Setiap mampir diwarung kopi, ia selalu mendengarkan obrolan orang-orang tentang kebakaran itu.

                Dari penggalan cerpen tersebut, terlihat bahwa pengarang menciptakan watak Sandimin ,tukang patri yang dituduh membakar pabrik, adalah pribadi yang tidak bertanggung jawab karena lari dari masalah yang menimpanya.
            Selain dilakukan lewat apa yang diperbuat sang tokoh. Penggambaran pembentukan watak atau karakter lewat kata-kata dan ucapan sang tokoh. Seperti dalam penggalan cerpen Naning Pranoto, “Warna Cinta Seorang Peragawati”.

“Harus. AB harus kubunuh sesegera mungkin, sebelum ia menikahi Claudia minggu depan.” Ia menegaskan, untuk menyakinkan dirinya, bahwa ia harus segera bertindak cepat. “Kalau tidak, berarti gadis ingusan itu bakal memiliki AB. Heh! Aku tidak rela. AB harus tetap menjadi milikku, hai, Claudia!” ia mengepalkan tangan kanannya, lalu meninju udara dengan geram.

            Pada cerita pendek Kisah Sum-Sabar karya Yanusa Nugroho, dapat dilihat penggambaran watak atau karakter Sabar lewat kata-katanya. Dapat dilihat dari penggalan cerita pendek Yanusa Nugroho tersebut.

Tapi, kau juga cinta pada Denmas Muda, kan?” teriaknya pada semak bamboo ditepian kali. Semak itu bergoyang oleh angin.
“Hayaaak…goroh! Dusta, jangan mungkir Sum! Aku memang gembel, kere, mlaraaat! Kau sadar bahwa dirimu ayu, cantik, manis, perawakanmu bagus, kulitmu putih mulus, dan tampangmu tampang sekolahan! Apalagi dia mencintaimu, Hahahahahaha…! Kaupuas, walau nantinya kauhanya akan dijadikan selir, kau tahu itu ‘kan? Hahahahah… Kaumau walau kautahu, bahwa dirimu bukanlah satu-satunya perempuan yang akan mendampingi malam-malamnya!” Sabar tergelak-gelak bagai orang gila.

Pembentukan watak atau karakter juga bisa melalui bentuk tubuh tokoh. Di dalam cerita pendek sastra seringkali dideskripsikan kondisi fisik tokoh secara detail dan rinci termasuk bagaimana ia berpakaian. Hal ini penting guna melahirkan karakternya yang asli.
Penggalan cerpen Setyo Subandono, “Tukang Patri”, menggunakan penggambaran pembentukan watak atau karakter melalui kondisi fisik dan pakaiannya.

            KERINGAT Sandimin bercucuran. Baju kaosnya yang berwarna kuning itu tampak sudah sangat kumal. Baunya sangat apek menyengat hidung. Sudah seminggu ini, ia tidak ganti baju.
                Bagaimana mungkin Sandimin mau ganti pakaian, pulang ke rumah saja ia tidak berani. Celana kolornya yang berwarna hitam tampak sudah mulai robek disana-sini. Sandal yang dikenakannya juga sudah butut dan hampir putus talinya. Boleh dibilang ia kini sudah mirip gelandangan yang tidak punya tempat tinggal. Ia berlari dan terus berlari menyembunyikan diri dari kejaran pihak yang berwajib. Tiap mendengar suara langkah kaki berat dan kokoh, bulu kuduknya pasti merinding.

Selanjutnya, pembentukan watak atau karakter yaitu lewat ide dan buah pikiran tokoh. Hal ini bisa dilihat dari penggalan cerpen Naning Pranoto, “Warna Cinta Seorang Peragawati”. Pengarang menggambarkan tokoh utama dalam cerpen tersebut sebagai orang yang pendendam.

Kini ia duduk sendirian di kamarnya, sedang menyusun strategi yang dianggapnya terbaik untuk melenyapkan nyawa AB. Ia breakdown langkah-langkah yang akan ditempuhnya, untuk memberi kekuatan pada dirinya agar tidak surut dari tekadnya. Baginya, apapun, ini adalah jalan yang terbaik untuknya. Maksudnya, untuk melampiaskan kekecewaannya terhadap lelaki itu. Ia tidak memikirkan apa akibatnya bila ia benar-benar menjadi seorang pembunuh, karena akal sehatnya sedang mengalami gangguan berat.

            Sebagaimana elemen lainnya di dalam cerita pendek, elemen watak atau karakter ini berhubungan erat dengan kemampuan pengarang memberinya jiwa. Pengarang yang mampu menghidupkan watak atau karakater tokohnya akan mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya seperti sungguh-sungguh benar terjadi, bukan hanya sebuah rekaan.









BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
           
           
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum BachriAhmadun Yosi HerfandaAcep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Ciri-ciri Struktur Estetik dan Ekstra Estetik Cerita Pendek Sastra Periode Angkatan Reformasi, yaitu:
a.       Ciri-ciri Struktur Estetik
(1)   menggunakan sudut pandangan orang ketiga;
(2)   alurnya lurus atau maju;
(3)   perwatakan atau penokohan : analisis fisik tidak menonjol, pembentukan watak atau karakter lewat kata-kata dan ucapan sang tokoh;dan
(4)   tema dan kesimpulan cerita pendek sastra terserah pada pembaca bagaimana menafsirkannya.

b.      Ciri-ciri Struktur Ekstra Estetik
(1)   menggambarkan kehidupan masyarakat sehari-hari;
(2)   mengungkapkan masalah-masalah sosial; kemiskinan, kesengsaraan kehidupan;
(3)   latar cerita pendek sastra umumnya latar kehidupan masyarakat sehari-hari;dan
(4)   mengemukakan pandangan hidup dan pikiran-pikiran pribadi untuk memecahkan suatu masalah.




DAFTAR PUSTAKA


Rampan, Korrie Layun. 1995. Dasar-dasar Penulisan Cerita Pendek. Flores: Nusa Indah.

Rosidi, Ajip. 1964. Kapankah Kesusasteraan Indonesia Lahir? Jakarta: Bharatara.

Pranoto, Naning. 2003. Sebilah Pisau dari Tokyo (Kumpulan Cerita Pendek). Jakarta:        Grasindo.

Nugroho, Yanusa. 1990. Bulan Bugil Bulat (Kumpulan Cerpen YANUSA NUGROHO).    Jakarta: Grafiti.

Forum Pencinta Sastra Bulak (FPSB). 1996. Kartu nama (Kumpulan Cerpen).       Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Joko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.
            Jakarta: Pustaka Pelajar.

Rampan, Korrie Layun. 1995. Aliran-Jenis Cerita Pendek. Flores: Nusa Indah.


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar