Jumat, 16 Desember 2011

MORFOLOGI- PROSES PENGULANGAN

MORFOLOGI
PROSES PENGULANGAN



Disusun Oleh       :
1.     Tiara Ramadhan                   (06101002011)
2.     Annisa Ilmi                             (06101002027)
3.     Sherly Fitrah Anugrah (06101002036)

Dosen Pengasuh  :
Drs. Ansori, M.Si.


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alami, berkat rahmat dan inayah Allah SWT, kami sangat bersyukur kepada Allah SWT karena kami dapat menyelesaikan makalah untuk pemenuhan tugas mata kuliah Morfologi oleh bapak Drs. Ansori, M.Si selaku dosen pengasuh dalam mata kuliah Morfologi.
Masih banyak sekali kekurangan dalam makalah ini, kritik, dan saran dari pembaca sangat diterima, semoga dapat menjadi bacaan yang bermanfaat bagi pembacanya, kami selaku penyusun mohon maaf apabila ada kesalahan dalam tulisan ini, kepada Allah kami mohon ampun.

                                                                                    Indralaya,   November 2011



                                                                                    Penyusun





Proses Pengulangan

­­­­            Proses pengulangan atau reduplikasi ialah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya ataupun sebagiannya, baik dengan variasi vonem atau tidak. Hasil pengulangan itu disini disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya kata ulang rumah-rumah dari bentuk dasar rumah. Kata ulang perumahan-perumahan dari bentuk dasar perrumahan. Kata ulang berjalan-jalan  dibentuk dari bentuk dasar berjalan, kata ulang bolak-balik dibentuk dari bentuk dasar balik.
            Setiap kata ulang sudah tentu memiliki bentuk dasar. Kata-kata seperti sia-sia, alun-alun, mondar-mandir, compang-camping, hura-hura, dalam tinjauan deskriptif tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. Dari deretan morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. Secara historik atau komparatif, mungkin kata-kata itu dapat dimasukkan kedalam golongan kata ulang, tetapi uraian kami disini tidak berdasarkan tinjauan historic maupun komparatif. Dari deretan morfologik, akan, ternyata, bahwa, sia, alun, mondar, atau mandir, compang atau camping, huru atau hara bukan satuan gramatik, berbeda dengan temu. Sekalipun satuan ini tidak pernah bertemu dalam bentuk temu saja, namun dari deretan morfologik dapat dipastikan bahwa satuan itu ada. Deretan morfologiknya :
                        Pertemuan
                        Penemuan
                        Bertemu
                        Ketemu
                        Ditemukan
                        Menemukan
                        Mempertemukan
                        Dipertemukan
                        Temu duga
                        Temu

Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
            Setiap kata ulang memiliki satuan yang diulang. Satuan yang diulang itu disebut bentuk dasar. Sebagian kata ulang dengan mudah dapat ditentukan dasarnya, misalnya :
            Rumah-rumah                         : bentuk dasarnya rumah
            Perumahan-perumahan            : bentuk dasarnya perumahan
            Sakit-sakit                               : bentu dasarnya sakit
            Dua-dua                                  : bentuk dasarnya dua
            Pemikiran-pemikiran               : bentuk dasarnya pemikiran
            Kebaikan-kebaikan                 : bentuk dasarnya kebaikan
            Pemburu-pemburu                   : bentuk dasarnya pemburu
            Rintangan-rintangan               : bentuk dasarnya rintangan

            Tetapi tidak semua kata ulang dapat dengan mudah ditentukan bentuk dasarnya. Dari pengamatan, dapatlah dikemukakan dua petunjuk dalam menentukan bentuk dasar bagi kata ulang :
1.      Pengulangan pada umumnya tidak mengubah golongan kata. Dengan petunjuk ini, dapat ditentukan bahwa bentuk dasar bagi kata ulang termasuk golongan kata nominal berupa kata nominal, bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk golongan kata verbal, baik kata kerja maupun kata sifat, berupa kata verbal, dan bentuk dasar bagi kata ulang yang termasuk golongan kata bilangan juga berupa kata bilangan, misalnya :

Berkata-kata (kata kerja)                                 : bentuk dasarnya berkata (kata kerja)
Menari-nari (kata kerja)                                   : bentuk  menari (kata kerja)
Tersenyum-senyum (kata kerja)                      : betuk dasarnya tersenyum (kata kerja)
Gunung-gunung (kata nominal)                      : bentuk dasarnya gunung (kata nominal)
Minum-minuman (kata nominal)                     : bentuk dasarnya minuman (kata nominal)
Makan-makanan (kata nominal)                      : bentuk dasarnya makanan (kata nominal)
Nyanyi-nyanyian (kata nominal)                     : bentuk dasarnya nyanyian (kata nominal)
Cepat-cepat (kata sifat)                                   : bentuk dasarnya cepat (kata sifat)
Sepuluh-sepuluh (kata bilangan)                     : bentuk dasarnya sepuluh (kata bilangan)
Keempat-empat (kata bilangan)                      : bentuk dasarnya keempat (kata bilangan)
Pukul-memukul (kata kerja)                            : bentuk dasarnya memukul (kata kerja)
Bersentuhsentuhan (kata kerja)                       : bentuk dasarnya bersentuhan (kata kerja)
Kereta-keretaan (kata nominal)                       : bentuk dasarnya kereta (kata nominal)



Namun demikian, ada juga pengulangan yang mengubah golongan kata, ialah pengulangan se-nya, misalnya :

Tinggi              à        setinggi-tingginya
Luas                à        seluas-luasnya
Cepat               à        secepat-cepatnya
Jelek                à        sejelek-jeleknya

Kata-kata  setinggi-tingginya, seluas-luasnya, secepat-cepatnya, dan sejelek-jeleknya  termasuk keterangan dalam klausa, sedangkan bentuk dasarnya, ialah tinggi, luas, cepat, dan jelek termasuk dalam golongan kata sifat.

2.      Bentuk dasarnya selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Misalnya kata ulang mempertahan-tahankan. Bentuk dasarnya bukannya *mempertahan, melainkan mempertahankan karena *mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa. Demikian pula :

Memperkata-katakan              : bentuk dasarnya memperkatakan, bukan *memperkata
Mengata-ngatakan                  : bentuk dasarnya mengatakan bukan *mengata
Menyadar-nyadarkan              : bentuk dasarnya menyadarkan bukan *menyadar
Berdesak-desakan                   : bentuk dasarnya berdesakan bukan *berdesak

Bentuk dasar pada kata ulang penting sekali, artinya bagi penentuan golongan pengulangan. Misalnya, jika kata kemerah-merahan terbentuk dari bentuk dasar merah, maka pengulangan pada kata kemerah-merahan termasuk golongan pengulangan yang berkombinasi pada proses pembubuhan afiks, tetapi jika dikatakan terbentuk dari bnetuk dasar kemerahan, maka pengulangannya termasuk golongan pengulangan sebagian.

            Contoh lain, misalnya pengulangan pada kata minum-minuman. Jika ini dikatakan terbentuk dari kata bentuk dasar minuman, maka pengulangannya termasuk golongan pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, tetapi jika dikatakan terbentuk dari bentuk dasar minuman, maka pengulangannya termasuk golongan pengulangan sebagian.



            Macam-macam pengulangan
            Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, pengulangan dapat digolongkan menjadi empat golongan :
1.      Pengulangan seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Misalnya :

Sepeda                  à        sepeda-sepeda
Buku                     à        buku-buku
Kebaikan               à        kebaikan-kebaikan
Keselarasan           à        keselarasan-keselarasan
Sekali                    à        sekali-sekali
Pertempuran          à        pertempuran-pertempuran
Pembangunan        à        pembangunan-pembangunan
Kesinambungan    à        kesinambungan-kesinambungan
Pengertian             à        pengertian-pengertian

2.      Pengulangan sebagian
Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Disini bentuk dasar tidak diulang seluruhnya. Hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks, yang berupa bentuk tunggal hanyalah kata lelaki yang dibentuk dari bentuk dasar laki, tetamu yang dibentuk dari betuk dasar tamu, berapa yang dibentuk dari bentuk dasar pertama, dan segala-gala yang dibentuk dari bentuk dasar segala.

Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk kompleks, kemungkinan-kemungkinan bentuknya sebagai berikut :

a.       Bentuk meN- misalnya :

Mengambil                  à        mengambil-ambil
Membaca                     à        membaca-baca
Menjalankan                à        menjalan-jalankan
Melambaikan               à        melambai-lambaikan
Mengemasi                  à        mengemas-ngemasi
Mempertunjukkan       à        mempertunjuk-tunjukkan
Memperkatakan          à        memperkata-katakan


            Pada kata mengambil-ambil nasal morfem meN – tidak diulang pada ambil yang kedua karena bentuk asal kata mengambil-ambil, ialah ambil, berawal dengan vocal. Berbeda halnya dengan mengemas-ngemasi. Disini, nasal morfem meN-diulang pada ngemasi karena bentuk asal mengemas-ngemasi berawal dengan konsonan. Bentuk asalnya bkan emas melainkan kemas.
b.      Bentuk di-, misalnya :

Diusai              à        diusai-usai
Ditarik             à        ditarik-tarik
Dikemasi         à        dikemas-kemasi
Ditanami         à        ditanam-tanami
Disodorkan     à        disodor-sodorkan
Diperkatakan   à        diperkata-katakan
Diperlambatkanà       diperlambat-lambatkan

c.       Bentuk ber-, misalnya :

Berjalan           à        berjalan-jalan
Bertemu          à        bertemu-temu
Bermain           à        bermain-main
Bersiap            à        bersiap-siap
Berlarut           à        berlarut-larut
Berkata            à        berkata-kata

d.      Bentuk ter-, misalnya  :

Terbatuk          à        terbatuk-batuk
Terbentuk        à        terbentur-bentur
Tergoncang     à        tergoncang-goncang
Tersenyum       à        tersenyum-tersenyum
Terjatuh           à        terjatuh-jatuh
Terbalik           à        terbalik-balik

e.       Bentuk ber-an, misalnya :
Berlarian          à        berlarian
Berhamburan   à        berhambur-hamburan
Berjauhan        à        berjauh-jauhan
Berdekatan      à        berdekat-dekatan
Berpukulan      à        berpukul-pukulan
Bersentuhan    à        bersentuh-sentuhan

f.       Bentuk –an, misalnya :
Minuman         à        minum-minuman
Makanan         à        makan-makanan
Tumbuhan       à        tumbuh-tumbuhan
Karangan         à        karang-karangan
Nyanyian         à        nyanyi-nyanyian
Sayuran           à        sayur-sayuran

g.      Bentuk ke-, misalnya :           
Kedua             à        kedua-dua
Ketiga             à        ketiga-tiga
Keempat          à        keempat-empat
Kelima             à        kelima-lima

            Dari penelitian ternyata bahwa pengulangan sebagian banyak terdapat dalam bahasa Indonesia di samping pengulangan seluruh. Dalam pengulangan sebagian ada kecenderunga untuk hanya mengulang bentuk asalnya saja seperti kelihatan pada contoh-contoh diatas.

3.      Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks
Dalam golongan ini bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan itu terjadi bersama-sama pula mendukung satu fungsi, misalnya kata ulang kereta-keretaan. Berdasarkan petunjuk penentuan bentuk dasar nomor 2, ialah bahwa bentuk dasar itu selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa, dapat ditentukan bahwa bentuk dasar bagi kata ulang kereta-keretaan adalah keretandan bukannya *keretaan, mengingat satuan *keretaan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa. Yang menjadi masalah, sekarang, bagaimana proses terbentuknya bentuk dasar kereta menjadi kereta-keretaan.

Ada dua pilihan, pilihan pertama ialah bentuk dasar kereta diulang menjadi kereta-kereta, lalu mendapat bubuhan afiks-an, menjadi kereta-keretaan. Jadi prosesnya sebagai berikut :
Kereta                   à        kereta-kereta   à        kereta-keretaan
            Pilihan kedua ialah bentuk dasar kereta diulang dan mendapat bubuhan afiks-an, jadi prosesnya :
                  Kereta                   à        kereta-keretaan

            Dari faktor arti, pilihan pertama kiranya tidak mungkin. Pengulangan bentuk dasar kereta menjadi kereta-kereta menyatakan makna ‘banyak’, sedangkan pada kereta-keretaan tidak terdapat makna ‘banyak’. Yang ada makna ‘sesuatu yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk ‘dasar’.  Jelaslah bahwa satu-satunya kemungkinan ialah pilihan yang kedua: kata kereta-keretaan terbentuk dari bentuk dasar kereta yang diulang dan mendapat afiks-an.
            Beberapa contoh yang lain, misalnya :
            Anak               ->         anak-anakan
            Rumah             ->         rumah-rumahan
            Gunung           ->         gunung-gunungan
            Orang              ->         orang-orangan
            Kera                ->         kera-keraan
            Demikian juga kata-kata kehitam-hitaman, keputih-putihan, kemerah-merahan, seluas-luasnya, setinggi-tingginya, sejelek-jeleknya, semahal-mahalnya, sedalam-dalamnya, dan sebagainya, juga terbentuk dengan cara yang sama dengan kata kereta-keretaan, ialah dengan pengulangan dan pembubuhan afiks pada bentuk dasarnya:
            Hitam              à        kehitam-hitaman
            Putih                à        keputih-putihan
            Merah              à        kemerah-merahan
            Luas                à        seluas-luasnya
            Tinggi              à        setinggi-tingginya
            Jelek                à        sejelek-jeleknya
            Mahal              à        semahal-mahalnya
            Dalam              à        sedalam-dalamnya

4.      Pengulangan dengan perubahan fonem
Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit. Di samping bolak-balik, terdapat kata kebalikan, sebaliknya, dibalik, membalik. Dari perbandingan itu, disimpulkan bahwa kata bolak-balik, dibentuk dari bentuk dasar bolak-balik ynag diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/.

Contoh lain misalnya :

Gerak        à        gerak-gerik
Robek        à        robak-rabik
Serba         à        serba-serbi

Pada gerak-gerik terdapat perubahan fonem, dari fonem /a/ menjadi fonem /i/ : pada robak-rabik terdapat perubahan fonem /o/ menjadi /a/ dan fonem /e/ menjadi /a/ dan /i/ : pada serba-serbi terdapat perubahan fonem /a/ menjadi /i/.

Disamping perubahan fonem vocal seperti terlihat pada contoh-contoh diatas, terdapat juga perubahan fonem konsonan misalnya :

      Lauk                à        lauk-pauk
      Ramah             à        ramah-tamah
      Sayur               à        sayur-mayur
Tali                  à        tali-mali

            Kata-kata seperti simpang-siur, sunyi-senyap, beras, petas, tidak termasuk golongan kata ulang. Apabila kata-kata tersebut dimasukkan ke dalam golongan kata ulang, hal itu berarti bahwa siur perubahan dari simpang, senyap perubahan dari sunyi, dan petas perubahan dari beras. Mungkinkah siur dari simpang senyap dari sunyi, dan petas dari beras? Secara deskriptif tentu hal itu tidak mungkin. Perubahannya sangat sukar dijelaskan. Kata-kata tersebut kiranya lebih tepat dimasukkan dalam golongan kata majemuk yang salah satu morfemnya berupa morfem unik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar