Jumat, 16 Desember 2011

ANALISIS STRUKTURAL SKENARIO W.S. RENDRA

ANALISIS STRUKTURAL
BUKU HARIAN SEORANG PENIPU


Sebuah Skenario
Oleh    : W.S. Rendra
Disadur dari sebuah sandiwara karya Alexander Ostrovsky
Disusun Oleh  :
Fipin Sapriani              (06101002009)
Tiara Ramadhan          (06101002011)
Oldy Bagja Lestari      (06101002012)
Rini Riwanti                (06101002015)
Mariska Septria           (06101002022)
Annisa Ilmi                 (06101002027)
Mata Kuliah                : Teori Sastra
Dosen Pengasuh          : Dra. Hj. Latifah, M.Hum.

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011
IDENTITAS BUKU

Judul Buku      : Buku Harian Seorang Penipu
Penulis             : W.S. Rendra
Penerbit           : PT. Pustaka Karya Grafika Utama
Cetakan           : Pertama, 1988
Tebal Buku      : 194 Halaman



ANALISIS STRUKTURAL
BUKU HARIAN SEORANG PENIPU
Sebuah Skenario
Oleh    : W.S. Rendra
Disadur dari sebuah sandiwara karya Alexander Ostrovsky

1.      TEMA

Tema (theme), menurut Stanton (1965: 88) dan Kenny (1966: 20), adalah makna yang dikandung dalam sebuah cerita. Menurut Stanton (1965: 21) tema sebagai makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana. Tema, menurutnya, kurang lebih dapat bersinonim dengan ide utama (central idea) dan tujuan utama (central purpose).
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko & Rahmanto, 1986: 142).

Adapun tema yang dikemukakan W.S. Rendra didalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga. Didalam scenario ini, diceritakan seorang broker (makelar) Mulyono Pratomo yang berniat menipu orang penting dan kaya didalam masyarakat. Mulyono beserta ibunya Nyonya Pratomo dan pelayan keluarganya Pak Saleh merencanakan untuk menipu sejumlah pihak demi menjadi kaya dengan cara yang instan. Agar tercapai keinginannya tersebut, Mulyono Pratomo berusaha untuk memperistri seorang gadis bernama Woro Sulastri, ahli waris dari janda kaya raya Ibu Busono Jiwo. Untuk melancarkan aksinya tersebut, Mulyono Pratomo akan menyingkirkan saudara sepupunya sendiri Kurniawan yang merupakan tunangan dari Woro Sulastri. Ia juga menyebar fitnah kepada Kurniawan yang ditujukan kepada Ibu Busono Jiwo agar Ibu Busono Jiwo memutuskan tali pertunangan Kurniawan dan Woro Sulastri. Selain itu, Mulyono Pratomo juga menjilat dukungan beberapa kalangan penting untuk melicinkan aksinya. Namun, diakhir cerita kedok Mulyono Pratomo akhirnya terbongkar. Hal ini tentunya memperjelas tema yang diangkat penulis. Tema yang disampaikan didalam scenario ini mengenai masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi manusia.
Tema mengenai masalah hidup dan kehidupan manusia diangkat penulis didalam scenario ini. Seperti yang diceritakan dalam scenario tersebut, Mulyono Pratomo dan Nyonya Pratomo telah jenuh dan muak terhadap hidup mereka yang miskin semenjak kematian Pak Pratomo yang hanya menyisakan uang pensiunan sebagai direktur SMA yang lebih kecil dibanding gaji sopir bis malam. Mereka telah jenuh terhadap sikap Pak Pratomo yang tidak mau melakukan tindak korupsi untuk menaikkan harkat marbatat keluarga mereka menjadi orang kaya raya.

·         Penggolongan Tema
Penggolongan tema berdasarkan tiga sudut  pandang yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan nontradisional, penggolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya.
           
a.       Tema Tradisional dan Nontradisional

Menurut penggolongan tema berdasarkan sudut pandang yang pertama yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan nontradisional, tema yang diangkat dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra tersebut adalah tema tradisional. Hal tersebut terlihat dari kutipan dialog didalam scenario.

KLEOPATRA        : Pepatah mengatakan: “Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali akan gagal juga.”

Seperti yang dikemukakan Nurgiyantoro (2000: 77) pernyataan-pernyataan tema yang dapat dipandang bersifat tradisional, misalnya, berbunyi: (i) kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan,  (ii) tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga, (iii) tindak kebenaran atau kejahatan masing-masing akan memetik hasilnya, (iv) cinta yang sejati menuntut pengorbanan, (v) kawan sejati adalah kawan di masa duka, (vi) setelah menderita, orang baru teringat Tuhan, (vii) atau (seperti pepatah-pantun) berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, dan sebagainya.

b.      Tingkatan Tema Menurut Shipley

Shipley membedakan tema-tema karya sastra ke dalam lima tingkatan, sebagai berikut: tema tingkat fisik, tema tingkat organic, tema tingkat social, tema tingkat egoik, dan tema tingkat devine. Adapun tema scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra menurut penggolongan tema berdasarkan tingkatan tema menurut Shipley, termasuk kedalam tingkatan yang ketiga, yaitu tema tingkat social, masyarakat sebagai makhluk social, man as socious.
Karena didalam scenario tersebut mengangkat mengenai masalah social yang berupa masalah ekonomi. Seperti yang diceritakan dalam scenario tersebut, Mulyono Pratomo dan Nyonya Pratomo telah jenuh terhadap kemiskinan yang mendera kehidupan mereka dan perasaan tidak puas terhadap kelakuan suaminya yang jujur dan antikorupsi. Masalah ekonomo yang terus membelit dan rasa jenuh tersebut membuat mereka nekat menipu sejumlah orang penting dan kaya di dalam masyarakat.

c.       Tema Utama dan Tema Tambahan

Tema pokok cerita atau tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya. Tema tambahan atau tema minor adalah makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasi sebagai makna bagian atau makna tambahan. Pada scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra, tema mayor yang diangkat adalah Kejahatan walau ditutup-tutupi lama-lama akan terbongkar juga. Adapun tema minornya adalah kaya belum tentu menjadi momok kebahagiaan seseorang dan kakayaan tidak dapat diraih dengan cara instan apalagi dengan cara menipu orang.




2.      PEMPLOTAN

Stanton mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisis urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebbabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Kenny (1966: 14) mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan salam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.

·         Peristiwa, Konflik, dan Klimaks
a.       Peristiwa
Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain (Luxemberg dkk, 1992: 150).
Adapun peristiwa-peristiwa yang terdapat di dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra yaitu sebagai berikut: Mulyono Pratomo merencanakan penipuan kepada sejumlah orang penting dan kaya. Mulyono berencana untuk menikahi Woro Sulastri ahli waris dari seorang janda kaya raya bernama Ibu Busono Jiwo. Untuk melancarkan aksinya Mulyono akan menjilat kalangan penting seperti Kocohutomo dan Kartomarmo. Peristiwa selanjutnya, untuk melancarkan aksinya Mulyono Pratomo menyebar fitnah untuk Kurniawan kepada Ibu Busono Jiwo agar memutuskan pertunangan Kurniawan dan Woro Larasati. Mulyono meminta bantuan Dukun Dyah Retno Suminar. Lalu Mulyono menjilat Kocohutomo untuk mendapatkan hati dan simpati darinya. Tak lupa Mulyono selalu menuangkan ketegangan jiwanya ketika melancarkan aksi menipu dan menjilat sana-sini di dalam buku hariannya.

b.      Konflik
Konflik adalah sesuatu yang dramatic, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek & Warren, 1989: 285).
Beberapa konflik yang terdapat didalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra antara lain: Kocohutomo yang mendepak Kurniawan karena telah termakan hasutan Mulyono Pratomo demi melancarkan aksinya memutuskan tali pertunangan Kurniawan dengan Woro Sulastri. Lalu Mulyono yang dengan gampang menarik hati Bapak Kartomarmo, Sekwilda Bapak Joko Sembodo, dan Ibu Kleopatra yang terpikat oleh ketampanan Mulyono Pratomo.

c.       Klimaks
Klimaks menurut Stanton (1965: 16) adalah saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari kejadiannya.
Klimaks dari scenario ‘Buku Harian seorang penipu’ karya W.S. Rendra yaitu Ibu Busono Jiwo dan dua temannya Cipto Jati dan Roso Jati sekelompok orang yang percaya betul pada tahayul, mengait-ngaitkan segala sesuatu yang telah dirancang Mulyono tanpa sepengetahuan mereka, dengan tondo-tondo yang mereka anut. Sehingga membuat mereka secara sepakat memutuskan tali pertunangan Kurniawan dan Woro Sulastri dan akan mengawinkan Woro Sulastri dengan Mulyono Pratomo. Dipihak lain, Kleopatra yang terlajur menaruh hati kepada Mulyono merasa sakit hati dan menuntut penjelasan dari Mulyono. Tak disangka, karena kecerobohan Mulyono yang meletakkan buku hariannya sembarang tempat, buku harian itu ditemukan oleh Kleopatra. Pada akhirnya mereka semua yang terlibat oleh skandal penipuan Mulyono dikumpulkan oleh Kleopatra di rumahnya.  Mereka menghakimi Mulyono dan minta penjelasan darinya.

·         Penahapan Plot

Tahapan Plot: Awal-Tengah-Akhir
Tahap awal sebuah cerita biasanya disebut sebagai tahap perkenalan. Tahap perkenalan pada umumnya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya.
Misalnya berupa penunjukkan dan pengenalan latar, seperti nama-nama tempat, suasana alam, waktu kejadiannya, dan lain-lain yang pada garis besarnya berupa deskripsi setting. Tahap awal scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra, terdapat dalam kutipan dibawah ini.

Rumah Mulyono Pratomo. Sekitar pukul 10.00 pagi. Dari luar rumah ini nampak sudah tua, tetapi terpelihara. Bukannya selalu dicat baru, tetapi selalu dibersihkan, dipertahankan, dan dipelihara. Seperti hidup miskin yang dipertahankan agar tidak nampak sengsara. Diusahakan diberi gengsi sebisa mungkin.

Selain itu, tahap awal juga sering dipergunakan untuk pengenalan tokoh-tokoh cerita, mungkin berwujud deskripsi fisik, bahkan mungkin juga telah disinggung perwatakannya. Tahap awal pengenalan tokoh cerita scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ terdapat dalam kutipan dibawah ini.

NYONYA PRATOMO        : Lantas, mau apa kamu? Jangan kuatir kami tidak akan bayar. Nah, Pratomo, kamu lihat sekarang. Inilah keadaan rumah tanggamu.
MULYONO               : Sudah, Bu! Saya akan merubah semua ini. (duduk di kursi meja makan) Mari, Bu, duduk sini. (setelah ibunya bergabung duduk di meja makan) Mulai hari ini kita ikuti permainan dunia. Jangan banyak cingcong lagi.
Dalam permainan ini kita harus menang. Harus top ! inilah dorongan moril kita mulai saat ini ! karena kita tidak punya modal, dan tidak punya kesempatan, kita harus memakai akal. Bila ini mau disebut tipu- daya, boleh saja.
Pendeknya kita mesti merubah keadaan. Pak Saleh, bagaimana dengan tugas mengumpulkan info yang saya serahkan kepada kamu ?

Tahap tengah. Tahap tengah cerita yang dapat juga disebut sebagai tahap pertikaian, menampilakan pertentangan dan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya, menjadi semakin meningkat, semakin menegangkan.
Tahap tengah dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ yaitu Ibu Busono Jiwo dan dua rekannya Cipto Jiwo dan Roso Jiwo yang telah termakan tipu muslihat rencana Mulyono Pratomo memutuskan tali pertunangan Kurniawan dan Woro Sulastri dan akan mengawinkan Woro Sulastri dengan Mulyono Pratomo. Dipihak lain, Kleopatra yang terlajur menaruh hati kepada Mulyono merasa sakit hati dan menuntut penjelasan dari Mulyono. Tak disangka, karena kecerobohan Mulyono yang meletakkan buku hariannya sembarang tempat, buku harian itu ditemukan oleh Kleopatra. Pada akhirnya mereka semua yang terlibat oleh skandal penipuan Mulyono dikumpulkan oleh Kleopatra di rumahnya.  Mereka menghakimi Mulyono dan minta penjelasan darinya.
                                        
Tahap akhir. Tahap akhir sebuah cerita, atau dapat juga disebut sebagai tahap peleraian, menampilakan adegan tertentu sebagai akibat klimaks. Adapun tahap akhir dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah mereka semua yang terlibat oleh skandal penipuan Mulyono dikumpulkan oleh Kleopatra di rumahnya.  Mereka menghakimi Mulyono dan minta penjelasan darinya. Mulyono mengakui perbuatannya dan meminta mereka semua yang terlibat dalam misinya menjadi orang kaya, untuk melupakan semua yang telah terjadi.

·         Pembedaan Plot
Plot diketegorikan kedalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjuan atau criteria yang berbeda. Pembedaan plot yang dikemukakan dibawah ini didasarkan pada tinjauan dari criteria urutan waktu, jumlah, dan kepadatan.
a.       Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Urutan Waktu
Plot bedasarkan criteria urutan waktu dibedakan menjadi dua yaitu yang pertama disebut sebagai plot lurus, maju, atau dapat dinamakan progresiif, sedang yang kedua adalah sorot balik, mundur, flashback, atau dapat juga disebut regresif. Berdasarkan urutan waktunya, plot yang digunakan dalam skenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah plot lurus. Hal ini dapat dibuktikan dengan peristiwa-peristiwa yang dikisahkan dalam scenario tersebut, yang bersifat kronologis, sederhana cara penceritaannya, tidak berbelit-belit, dan mudah diikuti.
b.      Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Jumlah
Berdasarkan criteria jumlah, plot terbagi menjdai dua yaitu plot tunggal  dan sub-plot. Di dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ plot yang digunakan berdasarkan criteria jumlah yaitu menggunakan plot tunggal. Pada scenario tersebut, dipaparkan mengenai perjalanan hidup Mulyono beserta konflik yang dihadapinya. Di dalam karya ini, juga ditampilkan berbagai tokoh lain, misalnya Kurniawan, Woro Sulastri, Ibu Busono Jiwo, Kleopatra, Kocohutomo, Kartomarmo, yang permasalahan dan konflik mereka berkaitan dengan tokoh utama yakni Mulyono Pratomo.
c.       Pembedaan Plot Berdasarkan Kriteria Kepadatan
Plot berdasarkan criteria kepadatan dibagi menjadi dua yakni: plot padat dan plot longgar. Plot yang digunakan dalam scenario ‘Buku harian Seorang Penipu’ berdasarkan criteria kepadatan ialah plot padat. Dimana peristiwa-peristiwa yang disajikan terjadi susul-menyusul dengan cepat, hubungan peristiwanya terjalin dengan erat.
d.      Pembedaan plot berdasarkan Kriteria Isi
Friedman (dalam Stevick, 1976: 157-65) membedakan plot berdasarkan criteria isi kedalam tiga golongan besar, yaitu plot peruntungan, plot tokohan, dan plot pemikirian. Pada scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra plot yang digunakan yaitu plot peruntungan. Pada plot peruntungan, berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan, yang menimpa tokoh utama cerita yang bersangkutan. Hal tersebut juga tergambar dalam cerita scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’, dimana nasib Mulyono tak semulus rencana liciknya untuk menjadi kaya dengan cara yang instan. Tipu muslihatnya yang berjalan mulus tanpa kendala dan hampir sukses, harus menelan kenyataan pahit yang pada akhirnya membongkar semua kedoknya.


3.      PENOKOHAN

Penokohan dan karakterisasi—karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan—menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah ceruta. Atau seperti dikatakan oleh Jones (1968: 33), penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilakan dalam sebuah cerita. Tokoh cerita menurut Abrams (1981: 20) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

·         Pembedaan Tokoh
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan menjadi lima berdasarkan sudut pandang dan tinjauan, yaitu tokoh utama, tokoh protagomis, tokoh sederhana, tokoh statis, dan tokoh tipikal.
a.       Tokoh Utama dan Tokoh tambahan
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dan merupakan tokoh yang paling abnyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
Tokoh utama dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah Mulyono. Adapun watak Mulyono adalah cerdas, licin, berani, dan kreatif.
Hal tersebut tergambar dalam kutipan scenario dibawah ini.

MULYONO               : Sudah, Bu! Saya akan merubah semua ini. (duduk di kursi meja makan) Mari, Bu, duduk sini. (setelah ibunya bergabung duduk di meja makan) Mulai hari ini kita ikuti permainan dunia. Jangan banyak cingcong lagi.
Dalam permainan ini kita harus menang. Harus top ! inilah dorongan moril kita mulai saat ini ! karena kita tidak punya modal, dan tidak punya kesempatan, kita harus memakai akal. Bila ini mau disebut tipu- daya, boleh saja.
Pendeknya kita mesti merubah keadaan. Pak Saleh, bagaiman dengan tugas mengumpulkan info yang saya serahkan kepada kamu ?

Selain itu, si tokoh utama Mulyono adalah sosok yang tampangnya cakap, cepat menimbulkan simpati orang, bahkan kadang kelihatan halus, tidak bersalah.

MULYONO               : Syukurlah kalau begitu. Saya mohon maaf. Waktu dan tenaga Bapak telah terbuang. Saya tidak berani mengganggu lagi. Biarlah saya tenggelam dalam urusan saya. Kalau hidup memang hampa seperti ini. Kematian terbayang sebagai sebagai suatu penyelesaian yang membawa bahagia.
KOCOHUTOMO            : Aduh…aduh, Nak. Jangan berkata seperti itu. Janganlah Anak pakai kata-kata dari film seri TV semacam itu. Itu jalan pikiran yang salah.

Pemunculan tokoh-tokoh tambahan dalam cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung. Adapun tokoh tambahan didalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ sebagai berikut:

a.       Nyonya Pratomo. Ibu dari Mulyono Pratomo dan Istri dari alm Pratomo. Wataknya ulet, sok kaya, dan penjilat.

NYONYA PRATOMO     : Maafkan, anak saya agak kakau kalau melukiskan wanita. Sebenarnya ia ‘kan seorang pemalu yang kurang pengalaman bergaul dengan wanita. Semua temannya lelaki melulu. Sangat jarang ia tertarik pada wanita. Jadi heran juga saya waktu ia melukiskan ibu sebagai orang yang memancarkan listrik. Lantas apa maksudnya?

b.      Pak Saleh. Pak Saleh merupakan pelayan keluarga Pratomo, punya kesetiaan kepada keluarga Pratomo dan cepat menangkap segala taktik penipuan ala Mulyono.

MULYONO            : Kenapa? Ragu-ragu? Saya modal otak. Ibu modal watak. Dan, kamu mau modal apa?
PAK SALEH          : Lho, ini uang warisan orang tua ditambah dengan uang tabungan, saya maksud ….

c.       Kurniawan. Kemenakan Kocohutomo, tunangan Woro Sulastri. Pikirannya tidak bodoh atau sekedar saja.

KOCOHUTOMO         : Hm. Anak tidak becus. Merasa sok pinter. Hatinya terlalu sombong untuk mendengarkan nasihat! Nasihat dari seseorang yang lebih berpengalaman dianggapnya sebagai kicauan burung betet.

d.      Ibu Dyah Retno Suminar. Wanita gemuk yang berprofesi sebagai dukun. Apabila ia mendapat inspirasi, kelakuannya seperti orang ayan. Caranya membawakan diri sehari-hari seperti orang sableng yang sewaktu-waktu bisa ayan.

DUKUN              : Genderang nasib baik terdengar talu. Di tanah yang tandus telah muncrat mata air yang mengusir dahaga semesta. (nenggak wiski lagi)
     
e.       Susilo. Semacam tangan kanan asisten atau ajudan dari bapak Kocohutomo. Tidak begitu cerdas tetapi bersikap sok penting.

SUSILO             : Maaf, tunggu sebentar. (pergi berbisik kepada teman mainnya, lalu segera kembali lagi) Marilah kita duduk di bar.

f.       Bapak Kocohutomo. Seorang pedagang besar. Sangat senang berpidato dan menceramahi semua orang. Wataknya sombong terhadap kekayaannya dan jiwanya yang dianggapnya mulia.

KOCOHUTOMO         : Ya. Buku itu ‘kan cuma kertas yang dikotori oleh tinta cetak, tidak berdarah tidak berdaging. Tidak punya mata yang bisa memacarkan perhatian. Tidak pernah menghela napas karena dibawa oleh rasa terharu. Sebetulnya, anak membutuhkan seorang penasihat yang bejiwa mulia.

g.      Ibu kocohutomo atau Ibu Kleo alias Kleopatra. Wajahnya cantik dan ia sangat manja. Wataknya nakal terhadap laki-laki.

KLEOPATRA          : (bergairah) O, ya? Ia sempat memperhatikan saya?

h.      Bapak Kartomarmo. Ketua Yayasan “Pembangunan Tanah Air” dan “Paguyuban Kabudayaan Mulyo”. Gayanya sopan santun, sopan santun dari orang yang berkedudukan tinggi. Sama seperti Bapak Kocohutomo, beliau juga sering berceramah dan pidato.

KOCOHUTOMO         : Aaaa, Bapak Kartomarmo!
KARTMARMO          : Assalamu alaikum.
KOCOHUTOMO         : Wa alaikum salam. Tokoh yang kita tunggu-tunggu kini sudah muncul. Mari, Pak, silakan duduk!

i.        Bapak Joko Sembodo. Jabatannya adalah Sekertaris Daerah. Wibawanya besar. Kelihatan berambisi dan punya keuletan.

JOKO SEMBODO       : Jelas saya tidak bisa meremehkan Saudara. Ambisi saya memang ada, dan potensi bantuan Anda memang ada pula. Jadi saya harus benar-benar mempertimbangkannya.

j.        Ibu Busono Jiwo. Seorang janda kaya raya yang sangat cantik dan berdarah bangsawan. Suka mistik, kuat pendirian, dan suka kesederhanaan.

MULYONO            : Saya tahu itu. Tetapi saya ingin menemuinya di restoran “Larasati” itu. Saya pingin lihay situasinya. Ah, gampang nanti! Mm, dan ini Ibu Busono Jiwo. Sudah separuh baya tetapi tetap juga cantik. Kuat pendirian dan suka kesederhanaan. Untung ia punya kelemahan yaitu percaya pada tahayul.

k.      Woro Sulastri. Ahli waris tunggal dari bibinya Ibu Busono Jiwo. Tampangnya canti rupawan. Wataknya lemah pendirian.

MULYONO            : (pada Saleh) Coba, pinjam fotonya! (Saleh membuka sebuah map lalu ia keluarkan sebuah foto yang menggambarkan sekelompok orang) Nah, ini dia orangnya. Lihat, ini. Tidak jelek. Lumayan. Kurang cerdas. Lemah pendirian. Belum pernah miskin. Agak malas. Selain suka olahraga, ia tidak punya pengetahuan lain yang cukup berarti.
Tetapi ia cukup cantik dan kaya. Dialah ahli waris yang sah dan satu-satunya dari bibinya, Ibu Busono Jiwo. Kelemahan pribadinya justru memungkinkan ia untuk menjadi korbanku yang gampang.

b.      Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi—yang salah satu jenisnya secara poluler disebut hero—tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bai kita (Altenberd & Lewis, 1966: 59). Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita, pembaca.
Adapun tokoh protagonis dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah bapak Kartomarmo.
Tokoh penyebab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis. Tokoh antagonis dalam scenario tersebut adalah Mulyono Pratomo.

c.       Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat
Tokoh sederhana dalam bentuknya yang asli adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat-watak tertentu saja. Sebagai seorang tokoh manusia, ia tak diungkap berbagai sisi kehidupannya. Pada scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ tokoh sederhana yaitu Pak Saleh, Susilo, Ibu Cipto Jati, dan Ibu Roso jati.
Tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Adapun tokoh bulat dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ ini adalah Mulyono.

d.      Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang
Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan dan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, 1966: 58). Adapun tokoh statis dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ ini adalah Pak Saleh, Ibu Dyah Retno Suminar, dan Susilo.
Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan (dan perubahan) peristiwa dan plot yang dikisahkan. Tokoh berkembang dalam scenario tersebut adalah Ibu Busono Jiwo, Ibu Cipto Jati, dan Woro Jati. Mereka yang semula mempercayai betul hal-hal yang berbau mistis dan tahayul, setelah terbongkar semua penipuan yang dilakukan Mulyono, sikap mereka terhadap hal-hal yang berbau tahayul itu pun memudar. Lalu tokoh berkembang selanjutnya adalah Woro Sulastri, dulu ia sangat mencintai Kurniawan, karena takut dengan ancaman bibinya Ibu Busono jiwo yang akan mencabut haknya sebagai ahli waris, ia pun memilih untuk meninggalkan Kurniawan dan berusaha mencintai Mulyono.

e.       Tokoh Tipikal dan Tokoh Netral
Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan atau kebangsaannya (Altenbernd & Lewis, 1966: 60), atau sesuatu yang lain yang lebih bersifat mewakili. Tokoh tipikal dalam scenario ‘Buku harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra tersebut adalah Pak Saleh. Didalam scenario ini, jarang sekali ditampilkan individualitasnya, lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaannya yang mengabdi kepada keluarga Pratomo.
Tokoh netral adalah tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi. Adapun tokoh netral dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ ini adalah Mulyono. Hal ini dikarenakan Mulyono adalah pelaku cerita dalam scenario tersebut.


4.      PELATARAN

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan social tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981: 175).

Unsur Latar
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial.
a.       Latar Tempat
Latar tempat menyarankan pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, lokasi tertentu tanpa nama jelas. Latar tempat dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah latar tempat tanpa nama yang jelas.

Sementara kamera berjalan mengembara di sebuah kotamadya, memandang berbagai ragam rumah penduduk dari yang kaya sampai yang miskin, dari yang modern sampai yang tradisional, dari berbagai lapisan kehidupan, dalam irama cut to cut maupun dissolve, credit-titles pun dipaparkan.

Selain itu, latar yang dipaparkan dalam scenario tersebut sebagai berikut:
-          Rumah Mulyono Pratomo

Rumah Mulyono Pratomo. Sekitar pukul 10.00 pagi. Dari luar rumah ini nampak sudah tua, tetapi terpelihara. Bukannya selalu dicat baru, tetapi selalu dibersihkan, dipertahankan, dan dipelihara. Seperti hidup miskin yang dipertahankan agar tidak nampak sengsara. Diusahakan diberi gengsi sebisa mungkin.

-          Restoran Larasati

Di restoran “Larasati”. Sebuah restoran taman. Ada juga bagian “dalam”nya, tetapi suasana paling meriah, di taman, di luar. Orang makan di bawah lindungan paying lebar atau di dalam beberapa gazebo yang mungil. Keadaan ramai tetapi toh suasana terpisah masih bisa diadakan antara kelompok meja satu dengan yang lainnya.

-          Salon biliar Flamingo

Di salon biliar “Flamingo”. Susilo sedang main di salah satu meja. Mulyono memasuki ruang biliar itu dengan tenang. Ia mencari di mana ada Susilo. Akhirnya ia melihat. Ia tunggu sampai ada kesempatan baik, bau ia langsung menghampiri Susilo.

-          Rumah Kartomarmo

Pagi hari. Di muka rumah Kartomarmo. Kurniawan sedang ke luar dari gerbang rumah, ia menuju ke mobilnya. Tepat pada saat itu datanglah mobil Kocohutmo berhenti di belakang mobil Kurniawan.

-          Rumah Nyonya Busono Jiwo

Burung- burung berkicau di atas pohon di halaman rumah Ny. Busono Jiwo, sementara matahari sudah agak tinggi. Ibu Busono Jiwo sedang menuju mobilnya yang sudah siap menanti. Sopir membukakan pintu, dan di dalamnya sudah duduk Woro Sulastri. Tiba-tiba seekor kucing hitam tampak melintas dihalaman Ny. Busono Jiwo terhenti.

-          Rumah Kocohutomo

Malam hari di istana Kocohutomo. Suasana pesta wayang dalam rangka perayaan 17 Agustus. Susilo menjadi penerima tamu yang keren. Tamu yang datang membawa suasana yang ramai dan mewah.

-          Kantor Yayasan Pembangunan Tanah Air

Di kantor ‘Yayasan Pembangunan Tanah Air’. Dari luar kantor ini Nampak kecil tetapi terpelihara. Halamannya luas tetapi terpelihara secara sederhana.

b.      Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah fiksi.
Adapun latar waktu dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra sebagai berikut:

-          Tanggal 14 Bulan Suro Hari Rebo Paing

CIPTO JATI            : (Seperti melihat hantu) Rebo paing, Mbakyu!
NYONYA BUSONO JIWO    : Tanggal 14, bulan Suro, hari Rebo Paing.
ROSO JATI             : Aiiih!

-          Bulan Agustus

Malam hari di istana Kocohutomo. Suasana pesta wayang dalam rangka perayaan 17 Agustus. Susilo menjadi penerima tamu yang keren. Tamu yang datang membawa suasana yang ramai dan mewah.

c.       Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan social masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual. Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status social tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas.
Latar sosial yang diangkat oleh W.S. Rendra dalam skenarionya ‘Buku Harian Seorang Penipu’ adalah adat istiadat dan keyakinan Ibu Busono Jiwo, Cipto jati, dan Roso Jati terhadap hal-hal yang berbau mistis. Seperti yang telah dikutip dibawah ini.

CIPTO JATI            : (Seperti melihat hantu) Rebo paing, Mbakyu!
NYONYA BUSONO JIWO    : Tanggal 14, bulan Suro, hari Rebo Paing.
ROSO JATI             : Aiiih!
CIPTO JATI            : O, alah … alah … innalilalahi wa inna ilaihi rajiun!
NYONYA BUSONO JIWO    : Hari ini, apabila terjadi an berakhir dengan mmaut berganda.

Selanjutnya latar sosial keyakinan Ibu Busono Jiwo, Cipto Jati, dan Roso Jati tehadap hal-hal yang berbau tahayul pada scenario tersebut terdapat didalam kutipan dibawah ini.

NYONYA BUSONO JIWO    : Suruh masukkan mobil ke garasi dan suruhlah Pak Sopir untuk mandi keramas 7 kali agar bisa menolak sial.

Lalu terdapat pula dalam kutipan di bawah ini.

Cipto jati            : Dua orang tamu dengan latar belakang berbeda punya saran yang sama.
Nyonya Busono Jiwo    : Hari keramat Selasa Kliwon Anggorokasih. Bulan purnama bulat sempurna. Hati terbuka untuk kasih sayang.



5.      BAHASA

Percakapan Dalam Novel
a.       Narasi dan Dialog
Sebuah karya fiksi umumnya dikembangkan dalam dua bentu penuturan: narasi dan dialog. Kedua bentuk tersebut hadir secara bergantian sehingga cerita yang ditampilkan menjadi tidak bersifat monoton, terasa variatif, dan segar.
Pengungkapan bahasa dengan gaya narasi sering dapat menyampaikan sesuatu secara lebih singkat dan langsung. Artinya pengarang mengisahkan ceritanya secara langsung, pengungkapan yang bersifat menceritakan, telling.
Hal tersebut dapat berupa pelukisan dan atau penceritaan tentang latar, tokoh, hubungan antartokoh, peristiwa, konflik, dan lain-lain.
-          Pelukisan latar

Kurniawan berada dirumah Mulyono. Ia duduk di ruang tamu dihadapi oleh Mulyono, Nyonya Pratomo, dan Pak Saleh.
Kurniawan               : Ya Allah, bagaimana saya tidak kaget. Pamanku marah tanpa ada alasannya.
Mulyono                 : Itu urusan keluargamu. Saya tak tahu apa-apa dan tak mau ikut campur dalam urusan ini.

-          Pelukisan peristiwa

Di ruang duduk keluarga. Semua wanita duduk dengan lemas. Semua terpengaruh, terpesona, keheranan oleh persamaan saran dua orang tamu pada hari yang sama.
Cipto jati              : Dua orang tamu dengan latar belakang berbeda punya saran yang sama.
Nyonya Busono Jiwo      : Hari keramat Selasa Kliwon Anggorokasih. Bulan purnama bulat sempurna. Hati terbuka untuk kasih sayang.

-          Pelukisan konflik

Sebuah mobil menderu, melaju di antara lalu lintas. Kleopatra mengendarai mobil itu dengan muka muram. Ia ngebut dengan penasaran.

b.      Unsur Pragmatik dalam Percakapan
Percakapan yang hidup dan wajar yang terdapat dalam sebuah karya sastra, adalah percakapan yang sesuai dengan konteks pemakaiannya, percakapan yang mirip dengan situasi nyata penggunaan bahasa. Bentuk percakapan yang demikian disebut pragmatik. Pragmatic diartikan pada beberapa pengertian yang berbeda namun intinya mengacu pada penggunaan bahasa yang mencerminkan kenyataan.
Pragmatik dalam percakapan scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra terdapat didalam kutipan dibawah ini.

Mulyono               : Di mana Pak Saleh ?
Kleopatra             : Pergi.
Mulyono               : Ke mana ?
Kleopatra             : Ke luar.

Pada kutipan dialog diatas terlihat jelas unsur pragmatiknya. Percakapan tersebut dalam konteks yang wajar dan mencerminkan kenyataan.


6.      MORAL

Moral dipandang sebagai salah satu wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema merupakan moral (Kenny, 1996: 89)
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; ahlak, budi pekerti, susila (KBBI, 1994)
Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai amanat, pesan, message.
Pesan moral yang disampaikan dalam Scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra mencakup masalah persoalan hidup dan kehidupan, yakni mengenai persoalan hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial.
Adapun pesan moral dalam scenario tersebut sebagai berikut: tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga dan juga menjadi kaya dengan cara menipu orang lain belum tentu menjadi standar kebahagiaan seseorang.

            HUBUNGAN ANTAR UNSUR-UNSUR
  1. Tema dan Penokohan
Tokoh-tokoh cerita, khususnya tokoh utama, adalah pembawa dan pelaku cerita, pembuat, pelaku, dan penderita peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Dengan demikian, sebenarnya, tokoh-tokoh utama cerita inilah yang “bertugas” (atau tepatnya: “ditugasi”) untuk menyampaikan tema yang dimaksudkan oleh pengarang.
Di dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ karya W.S. Rendra tersebut tema yang disampaikan penulis adalah tidak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar juga. Di dalam scenario ini, diceritakan tokoh Mulyono seorang makelar yang cerdas, licin, berani, dan berniat menipu orang penting dan kaya di dalam masyarakat. Selain itu, tokoh yang mendukung tema adalah Bapak kocohutomo, Ibu Busono Jiwo, Bapak kartomarmo, dan Woro Sulastri. Di dalam scenario tersebut, diceritakan bahwa mereka adalah orang-orang kaya yang akan ditipu dengan segala macam tipu muslihat Mulyono.
  1. Tema dan Latar
Latar merupakan tempat, saat, dan keadaan social yang menjadi wadah tempat tokoh melakukan dan dikenai suatu kejadian. Latar bersifat memberikan “aturan” permainan terhadap tokoh. Latar akan mempengaruhi pemilihan tema. Atau sebaliknya, tema yang dipilih akan menuntut pemilihan latar yang sesuai dan mampu mendukung. Dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ tersebut, misalnya, ditampilkan latar-latar rumah mewah, restoran, dan tempat biliar, dengan tokoh dari kelas social menengah keatas, sehingga mampu mendukung penyampaian tema yang dimaksudkan penulis.
  1. Penokohan dan Pemplotan
Penokohan dan pemplotan merupakan dua fakta cerita yang saling mempengaruhi dan menggantungkan satu dengan yang lain. Plot adalah apa yang dilakukan tokoh dan apa yang menimpanya. Adanya kejadian demi kejadian, ketegangan, konflik, dan sampai klimaks—yang notabene kesemuannya merupakan hal-hal yang esensial dalam plot—hanya mungkin terjadi jika ada pelakunya. Tokoh-tokoh cerita itulah yang sebagai pelaku sekaligus penderita kejadian, dan karenanya penentu perkembangan plot. Di pihak lain, pemahaman terhadap tokoh cerita harus dilakukan dari atau berdasarkan plot. Keberadaan sorang tokoh yang membedakannya dengan tokoh-tokoh lain lebih ditentukan oleh plot. Penafsiran terhadap sikap, watak, dan kualitas pribadi seorang tokoh sangat mendasarkan diri pada apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.
Dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ tersebut misalnya, tokoh Mulyono yang cerdas dan licik, kelicikannya semakin terlihat dengan seiring peristiwa-peristiwa yang terjadi. Selain itu, tokoh Kleopatra memiliki watak yang genit dan nakal pada lelaki walaupun ia telah mempunyai suami yang kaya raya. Seiring dengan alur cerita, watak Kleopatra semakin terlihat dan jelas.
  1. Latar dan Penokohan
Antara latar dengan penokohan mempunyai hubungan yang erat dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar, dalam banyak hal akan memepengaruhi sifat-sifat tokoh. Misalnya dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ ini tokoh Mulyono adalah seorang yang cerdas, licik, dan berniat untuk menipu sejumlah orang penting dan kaya di dalam masyarakat. Lalu Bapak Kocohutomo, Bapak Kartomarmo, Ibu busono Jiwo, dan Woro Sulastri, yang notabene mereka adalah orang kaya dengan kelas social menengah keatas. Hal tersebut tentunya berhubungan erat dengan latar yang digunakan dalam scenario ini, yakni rumah-rumah mewah, restoran, dan juga tempat biliar. Dan juga dilihat dari penamaan tokoh terlihat jelas kelas social mereka yang menengah keatas.
  1. Latar dan Pemplotan
Latar dalam kaitannya dengan hubungan waktu, langsung tak langsung, akan berpengaruh terhadap cerita dan pengaluran. Misalnya dalam scenario ‘Buku Harian Seorang Penipu’ ini, latar yang digunakan adalah sebuah kotamadya, berbagai rumah penduduk yang kaya sampai yang miskin hal tersebut tentu saja berkesinambungan dengan alur cerita yang menceritakan tentang seorang makelar yang berniat untuk menipu sejumlah orang penting dan kaya di dalam masyarakat. Tentu saja Mulyono, tokoh utama dalam cerita ini mempunyai kecerdasan yang tinggi untuk menipu orang-orang kaya. Hal tersebut tentu saja berkaitan erat dengan latar perkotaan yang ditampilakan dalam scenario tersebut.

















DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada    University Press.
            Rendra, W.S. 1988. Buku Harian Seorang Penipu. Jakarta: Grafikatama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar